puisi yang saya hadiahkan untuk agama saya
ISTIQAMAH
Oleh Sang Mahadewa Cinta
Kularung untai-untai kasih di lautan rindu berbalut zikrullah
yang kian bergemuruh ribang dengan madah-madah muhabah
bergolak desah melukis jutaan ombak tangis bertasbih sembah
yang hanyut berserah dalam lezatnya ratib bakti bersaus kanah
dalam gurihnya wirid-wirid cinta semata bagi-Mu Sang Mahaindah
masya Allah...
kuikhlas tenggelam dalam palung hamdalah-Mu nan saadah
karena semua asa dan dambaku berkhatimah di samudera arwah
Tak henti kualunkan stanza-stanza renjana di tampuk bukit rahmah
teronce dari berlaksa-laksa kasidah tahlil, tahmid, takbir hubbullah
dalam detak-detak nafas dan air mata hibat di belantara ubudiah
tertengadah di puncak istikharah mengemis hidayah dan maghfirah
memulung remah-remah tuhfah dari khazanah-Mu nan melimpah ruah
mengais-ngais sedekah di jazirah berkah-Mu yang s’lalu terbelangah
bagi fitrah penuh sempelah namun tak henti berjihad di kancah hijrah
berbenah istiqamah dalam mudik abadi ke ribaan rahmatullah
Kuingin terus berkafilah melintasi gurun, ngarai, dan segara zillullah
dengan segenap tahiyat dan takbir asmara yang melewah di lembah pasrah
karena senantiasa kucamkan titah-Mu bahwa hidup ini hanyalah ziarah
dan kematian semata kemah tempat bersanggrah menuju yaumulqiyamah
subhanallah... makin kuhirup mahawanginya firdaus-Mu yang gemah ripah
kian kudengar salam manja ribuan bidadarimu yang sungguh seteranah
namun, ah... semuanya tak pernah lagi membuatku tergugah
karena seluruh cinta dan rinduku melulu untuk-Mu tanpa canggah
Bumi Allah,
Oleh Sang Mahadewa Cinta
Kularung untai-untai kasih di lautan rindu berbalut zikrullah
yang kian bergemuruh ribang dengan madah-madah muhabah
bergolak desah melukis jutaan ombak tangis bertasbih sembah
yang hanyut berserah dalam lezatnya ratib bakti bersaus kanah
dalam gurihnya wirid-wirid cinta semata bagi-Mu Sang Mahaindah
masya Allah...
kuikhlas tenggelam dalam palung hamdalah-Mu nan saadah
karena semua asa dan dambaku berkhatimah di samudera arwah
Tak henti kualunkan stanza-stanza renjana di tampuk bukit rahmah
teronce dari berlaksa-laksa kasidah tahlil, tahmid, takbir hubbullah
dalam detak-detak nafas dan air mata hibat di belantara ubudiah
tertengadah di puncak istikharah mengemis hidayah dan maghfirah
memulung remah-remah tuhfah dari khazanah-Mu nan melimpah ruah
mengais-ngais sedekah di jazirah berkah-Mu yang s’lalu terbelangah
bagi fitrah penuh sempelah namun tak henti berjihad di kancah hijrah
berbenah istiqamah dalam mudik abadi ke ribaan rahmatullah
Kuingin terus berkafilah melintasi gurun, ngarai, dan segara zillullah
dengan segenap tahiyat dan takbir asmara yang melewah di lembah pasrah
karena senantiasa kucamkan titah-Mu bahwa hidup ini hanyalah ziarah
dan kematian semata kemah tempat bersanggrah menuju yaumulqiyamah
subhanallah... makin kuhirup mahawanginya firdaus-Mu yang gemah ripah
kian kudengar salam manja ribuan bidadarimu yang sungguh seteranah
namun, ah... semuanya tak pernah lagi membuatku tergugah
karena seluruh cinta dan rinduku melulu untuk-Mu tanpa canggah
Bumi Allah,





